Kegigihan dalam Melewati Perjalanan
Kehidupan
Oleh : Maya Puspita
Suatu kebanggaan serta kebahagiaan, terlahir dari keturunannya dan hidup sedari kecil dalam asuhannya, membuat saya mengerti akan perihnya perjuangan, letihnya pengorbanan, dan gigihnya rasa semangat yang tecermin dalam diri seorang nenek yang tinggal di sebuah pedesaan, yakni Nenek Soli.
Mayoritas
manusia mengetahui bagaimana kehidupan di desa atau lebih tepatnya di daerah
dataran tinggi. Ya! Beliau bertempat tinggal di kawasan tersebut. Hiruk pikuk
kehidupan desa, alam yang asri nan elok namun tidak selaras dengan kehidupan sosial
yang keras. Masa remaja yang harusnya diisi dengan kegiatan menyenangkan,
menggeluti hobi yang disukai, dan bermain dengan teman sebaya nyatanya hal ini tidak
terjamah oleh dirinya di usia belasan tahun tersebut.
Doktrin
orang tua yang mengharuskan semua anaknya hidup mandiri di usia dini, mewujudkan
kemauan bahkan uang jajan untuknya sekolah, beliau rela naik turun bukit terseok-seok
membawa sekarung daun teh yang bahkan ukuran beban yang dibawa hampir sama
dengan ukuran tubuhnya, sekarung daun teh tersebut untuk dijual di waktu pagi
hari. Mengeluh, marah, dan sedih sering kali menghampiri. Namun kehidupan terus
berjalan, tidak akan ada hasil jika
tidak ada usaha, bersyukur adalah kunci utama, dan hidup ini merupakan guratan
takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Kalimat tersebut yang beliau
tanamkan dalam benaknya.
Bukan
hanya itu, sebagai anak ketiga di keluarganya, beliau dan kakaknya memiliki
kewajiban untuk mengasuh adik-adiknya yang masih kecil, sebab kakak tertuanya
membantu orang tua bekerja. Waktu ini menjadi kesempatan untuknya menikmati
masa bermain.
Detik
demi detik telah dilalui, saat ia beranjak dewasa dan menikah. Beliau tetap
bekerja keras, tiap masa nya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan
menghindari pemborosan waktu. Mengelola peternakan ayam petelur, merawat kebun,
dan menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu di kala itu. Meskipun telah
menikah beliau tidak bermalas-malasan, karena prinsip dan didikan orang tua agar
bisa hidup mandiri dan tidak bergantung terhadap orang lain.
Oleh
karena itu, beliau memiliki penghasilan dari berbagai kegiatan yang dikelolanya
sehingga ia dapat membeli beberapa petak sawah dan kebun. Di kala melahirkan
anak keempatnya beliau diuji oleh Sang Kuasa, anaknya terlahir dengan kelainan down
syndrome atau lebih dikenal dengan penyakit seribu wajah. Ibu mana yang
tidak sedih saat anaknya memiliki kelainan ? Hal ini tidak membuat dirinya
terpuruk berlarut-larut. Beliau mencoba menerima garisan takdir, bersabar
dengan ujian ini, dan merawat buah hatinya dengan sepenuh hati.
Tidak
dapat dipungkiri, setelah beberapa tahun berlalu, beliau dikaruniai seorang
anak laki-laki yang terlahir sehat sehingga membuatnya bahagia. Namun senyumannya
perlahan sirna, ujian kehidupan menerpa kembali keluarga Nenek Soli, anaknya
terserang demam dan kejang-kejang, Ia pun melarikannya ke Rumah Sakit dan
ternyata dokter mendiagnosis bahwa putranya mengalami kelainan pada sel syaraf
otak sehingga membuat putranya berbeda dengan anak-anak di usianya. Cibiran,
gunjingan, hingga tatapan keprihatinan sering tertangkap oleh panca indranya, mengikuti
alur kehidupan seperti air yang mengalir yang hanya bisa ia lakukan.
Waktu
kian berlalu, putra-putrinya telah tumbuh dewasa, ia harus kembali bekerja
keras untuk menghidupi keluarganya sebab semua kebun, sawah, dan harta lainnya
telah habis untuk pengobatan suami dan kehidupan anak-anaknya.
Sekarang
beliau bekerja serabutan, kembali bekerja keras karena nyatanya kehidupan tidak
lepas dari terpaan ujian. Beliau dikenal oleh semua orang dengan kepiawaiannya
dalam bercocok tanam, sering kali ia dijuluki
dengan sebutan "Tiis Leungeun" sebuah babasan atau perumpamaan yang
cukup populer di kalangan masyarakat Sunda yang memiliki makna yaitu selalu
sukses dalam bercocok tanam. Menanam apa saja pasti tumbuh, mulai dari
menancapkan benih hingga memetik hasil dengan mulus dan lancar. Sehingga banyak
pemilik kebun atau sawah meminta dan mempercayai Nenek Soli bekerja sebagai
penanam bibit hingga pemanenan.
Bukan
hanya itu, beliau juga dapat melakukan segala hal yang terkadang banyak perempuan di masa senjanya tidak dapat
melakukan hal tersebut. Dapat dikatakan beliau adalah orang yang serba bisa, diantaranya
memperbaiki atap yang bocor, mengelola dan merawat ternak kambing, sapi, dan
unggas, memanjat pohon, dan membersihkan serta mengeruk aliran sungai yang kotor
dari sampah maupun segala hal yang dapat menahan laju air, sebab beliau sangat
peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Tidak
lupa dengan segala rezeki yang didapatkannya, beliau selalu memberi meskipun hanya
sedikit, namun prinsip hidupnya "Jika saya merasakan kenikmatan rezeki, semua
orang di sekitar saya harus bisa
merasakannya juga." Prinsip sederhana namun berarti bagi orang yang
menerimanya.
Tidak
muluk-muluk, impiannya sederhana ia hanya ingin membahagiakan keluarga dan hidup
damai agar dapat beribadah dengan khusyuk kepada Sang Maha Esa.
Untaian
kisah perjalanan hidupnya, ia ceritakan kepada anak dan cucunya sembari
menikmati senja ditemani beberapa kudapan yang dibuatnya. Ia memiliki tujuan agar
mereka bisa memetik hikmah dan pelajaran di dalamnya.
Saya
sebagai cucunya merasakan dan juga secara langsung melihat sebagian perjalanannya,
betapa keras hidup beliau. Nenek Soli yang selalu rendah hati, perangai yang sangat
baik, memberi, dan menolong sesama adalah kegemarannya, inilah yang selalu
orang katakan mengenai dirinya. Seorang inspirator dan panutan hidup yang patut
kita contoh dan diterapkan dalam kehidupan. Sikap pantang menyerah, etos kerja,
dan kepedulian terhadap sesama ada pada
dirinya dan ia selalu merima apa yang Sang Kuasa berikan. Sebab tidak semua
takdir dapat diubah, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha mengubah apa yang
bisa diubah dan menerima semua yang menjadi garisan takdir hidup.
NIS : 18190214
Asal Sekolah : SMAN 1 CIAMIS